pembelajaran scientific dan kontekstual


PENDEKATAN PEMBELAJARAN SCIENTIFIC DAN KONTEKSTUAL
1              Pendekatan Scientific

a.       Pengertian Pendekatan scientific
        Pendekatan adalah konsep dasar yang mewadahi, menginspirasi,     menguatkan,    dan melatari pemikiran tentang bagaimana metode           pembelajaran diterapkan berdasarkan teori tertentu. Oleh karena itu banyak        pandangan yang menyatakan bahwa pendekatan sama artinya dengan         metode. Pendekatan ilmiah berarti konsep dasar yang menginspirasi atau      melatarbelakangi perumusan metode mengajar dengan menerapkan karakteristik    yang ilmiah. Pendekatan pembelajaran ilmiah (scientific teaching) merupakan   bagian dari pendekatan pedagogis pada pelaksanaan pembelajaran dalam kelas          yang  melandasi penerapan metode ilmiah.
          Pengertian penerapan pendekatan ilmiah dalam pembelajaran tidak hanya fokus pada bagaimana mengembangkan kompetensi siswa dalam           melakukan observasi atau eksperimen, namun bagaimana mengembangkan   pengetahuan dan keterampilan berpikir sehingga dapat mendukung aktivitas          kreatif dalam berinovasi atau berkarya.
          Menurut  majalah Forum Kebijakan Ilmiah yang terbit di Amerika           pada tahun 2004 sebagaimana dikutip Wikipedia menyatakan  bahwa             pembelajaran ilmiah mencakup strategi pembelajaran siswa aktif yang            mengintegrasikan siswa dalam proses berpikir dan penggunaan metode yang teruji secara ilmiah sehingga dapat membedakan kemampuan siswa yang       bervariasi. Penerapan metode ilmiah membantu guru mengindentifikasi      perbedaan kemampuan siswa. Pada penerbitan berikutnya pada tahun            2007  dinyatakan bahwa penerapan pendekatan saintifik dalam pembelajaran          harus memenuhi  tiga prinsip utama; yaitu:
1.      Belajar siswa aktif, dalam hal ini  termasuk inquiry-based learning atau             belajar berbasis penelitian, cooperative learning atau belajar berkelompok,    dan belajar berpusat pada siswa.
2.      Assessment berarti  pengukuran kemajuan belajar siswa yang dibandingkan       dengan target pencapaian tujuan belajar.
3.                  Keberagaman mengandung makna bahwa dalam pendekatan ilmiah      mengembangkan pendekatan keragaman.  Pendekatan ini membawa   konsekuensi siswa unik, kelompok siswa unik, termasuk keunikan dari kompetensi, materi, instruktur, pendekatan dan metode mengajar, serta       konteks.       
               Metode Ilmiah merupakan teknik merumuskan pertanyaan dan menjawabnya melalui kegiatan observasi dan melaksanakan percobaan. Dalam penerapan metode ilmiah terdapat aktivitas yang dapat diobservasi seperti mengamati, menanya, mengolah, menalar, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta. Pelaksanaan metode ilmiah tersusun dalam tujuh langkah berikut:
1.      Merumuskan pertanyaan.
2.      Merumuskan latar belakang penelitian.
3.      Merumuskan hipotesis.
4.      Menguji hipotesis melalui percobaan.
5.      Menganalisis hasil penelitian dan merumuskan kesimpulan.
6.      Jika hipotesis terbukti benar maka dapat dilanjutkan dengan laporan.
7.      Jika Hipotesis terbukti tidak benar atau benar sebagian maka lakukan      pengujian kembali.
        Penerapan metode ilmiah merupakan proses berpikir logis berdasarkan fakta dan teori. Pertanyaan muncul dari pengetahuan yang telah dikuasai. Karena itu kemampuan bertanya merupakan kemampuan dasar dalam mengembangkan berpikir ilmiah. Informasi baru digali untuk menjawab pertanyaan.Oleh karena itu, penguasaan teori dalam sebagai dasar untuk menerapkan metode ilmiah. Dengan menguasi teori maka siswa dapat menyederhanakan penjelasan tentang suatu gejala, memprediksi, memandu perumusan kerangka pemikiran untuk memahami masalah. Bersamaan dengan itu, teori menyediakan konsep yang relevan sehingga teori menjadi dasar dan mengarahkan perumusan pertanyaan penelitian.
            Proses pembelajaran yang mengimplementasikan pendekatan scientific akan menyentuh tiga ranah, yaitu: sikap (afektif), pengetahuan (kognitif), dan keterampilan (psikomotor). Dengan proses pembelajaran yang demikian maka diharapkan hasil belajar melahirkan peserta didik yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi. Perhatikan diagram berikut.   
2.1.3   Langkah-langkah pembelajaran scientific meliputi
1.      Mengamati fakta
Mengamati fakta yang ada dapat dibagi dalam dua keadaan seperti pengamatan nyata fenomena alam atau lingkungan dan pengamatan obyek langsung.
a.       Pengamatan nyata fenomena alam atau lingkungan.
Pengamatan seperti ini cocok untuk anak sekolah menengah pada kelas rendah dimana karakter penalarannya masih bertaraf induktif. Pengamatan langsung fenomena alam akan membantu siswa menuangkan apa yang di lihat atau amati ke dalam pengetahuan sederhana menjadi bakal pengetahuan secara lisan ataupun tertulis. Hasil tuangan dalam bahasa pengetahuan sederhana tersebut dengan mudah dapat dipahami. Misal; fakta tentang “pengetahuan kontekstual”, yang menggambarkan tentang pola pemukiman penduduk, seperti gambar berikut:
Fenomena/fakta seperti yang tampak pada gambar di atas diamati, kemudian dibahasakan secara konseptual dalam bentuk penjelasan sederhana. Berdasarkan fenomena tersebut, dapat dijelaskan tentang pola pemukiman penduduk yaitu pola pemukiman penduduk secara memanjang. Maksudnya, pola pemukiman seperti ini memiliki ciri berupa pemukiman penduduk berderet memanjang mengikuti alur jalan, sungai, rel kereta api atau pantai. Jika dihubungkan dengan tema manusia sebagai makhluk sosial, fenomena tersebut tentu saja mengarah pada kesimpulan bahwa dalam memenuhi kebutuhannya, manusia tidak dapat hidup sendiri bahkan selalu berkelompok dan membutuhkan orang lain. Pemenuhan kebutuhan tersebut menyesuaikan dengan kondisi alam sekitar yang ada. Jika seseorang suka tinggal di tempat yang dekat dengan air, dia dapat memilih lokasi rumah di pinggiran atau menyusuri sungai, tetapi bagi yang suka dengan keramaian, dia memilih lokasi untuk membangun rumahnya mengikuti jalan, dsb. Kegiatan sederhana seperti yang dijelaskan di atas dapat membantu siswa mengembangkan kreativitas berpikir secara analitis, bukan sekedar menghafalkan fakta-fakta. Proses sebelum tercapai kesimpulan pada hakekatnya hampir sama dengan penjelasan berikut
b.      Pengamatan objek IPS
Pengamatan obyek sangat cocok untuk siswa yang mulai menerima kebenaran logis, sehingga mereka tidak mempermasalahkan suatu rangkaian kebenaran sebelumnya yang didapatkan dari penalaran yang benar, walaupun objeknya tidak nyata. Pengamatan seperti ini lebih tepat dikatakan sebagai pengumpulan dan pemahaman kebenaran pengetahuan. Fakta yang didapatkan dapat berupa definisi, grafik dan lain sebagainya. Misal; siswa diminta membayangkan kegiatan petani di sawah, kemudian diminta menjelaskan atau bercerita tentang kegiatan petani berikutnya sampai dengan hasil beras menjadi nasi dihubungkan dengan tema manusia sebagai makhluk sosial. Satu persatu siswa menyebutkan hasil pengamatannya seperti;
1.      ada 6 orang di sawah sedang bekerja menanam padi,
2.      orang-orang bekerja di sawah membetulkan saluran irigasi,
3.      orang-orang sedang bekerja melakukan panen padi.
            Dari hasil pengamatan obyek tersebut dapat disimpulkan tentang mahkluk sosial; Makhluk sosial adalah makhluk berkelompok dan tidak mampu hidup menyendiri. Makhluk sosial adalah makhluk yang memiliki kecenderungan menyukai dan membutuhkan kehadiran sesamanya sebagai kebutuhan dasar yang disebut kebutuhan sosial (social needs). Hasil pengamatan obyek secara sederhana tersebut jika dilanjutkan dapat berupa analisis dan menghasilkan kajian yang saling kait mengkait. Kegiatan petani dalam menggarap sawahnya untuk menanam padi sampai dengan panen adalah;
1.      memerlukan pedagang benih,
2.      setelah itu petani memerlukan pekerja untuk menanam padi,
3.      setelah masa tanam, petani memerlukan pupuk dan pekerja,
4.      pekerja untuk penyiangan gulma,
5.      pekerja untuk penyemprotan hama,
6.      buruh panen
7.      Setelah itu agar padi tersebut dapat diuangkan, petani perlu
      pembeli.
            Jadi, kegiatan pengamatan, bertanya dan mencoba sangat bagus untuk menuntun siswa membangun pengetahuan sendiri dan diharapkan mereka mampu menemukan sesuatu sampai dengan memahami nilai dari pengetahuan, sikap dan ketrampilan. Dengan begitu dapat terjalin sinergi proses belajar yang sangat komunikatif dan aplikatif dengan cara memberikan pancingan-pancingan pada siswa untuk mengembangkan cara berpikir tingkat tinggi ilmiah,aktif, kreatif. Observation based learning, questioning menjadi dasar proses pembelajaaran, sehingga semua pertanyaan selalu terbuka dan mengarah pada multi jawaban
2.      Menanya
                  Kecenderungan yang ada sekarang adalah siswa gagal menyelesaikan suatu masalah yang ada hubungannya dengan pengetahuan sosial, jika konteksnya diubah sedikit saja. Ini terjadi karena siswa cenderung menghafal fakta, konsep atau prosedur tertentu. Tidak terbangun suatu pemikiran yang divergen. Pemikiran yang divergen ini dapat dibangkitkan dari suatu pertanyaan. Untuk menggalinya dapat dilakukan dengan memanfaatkan solusi yang mereka hasilkan, dengan menanyakan alternatif-alternatif yang mungkin dari solusi itu. Dalam hal ini guru tidak boleh memberi tahu, tetapi hanya memberikan pertanyaan pancingan, sampai siswa sendiri yang menyelesaikan dan mencari alternatif yang lain. Misalnya dari analisis yang dijelaskan di atas, siswa diarahkan pada pertanyaan
1.      mengapa petani perlu bekerja di sawah?
2.      apa yang akan terjadi seandainya petani tidak bekerja?
3.      mengapa para petani memerlukan orang lain untuk
mengerjakan semua pekerjaan yang mengarah pada pekerjaan menggarap sawah?
3.      Menalar
                  Pertanyaan seperti di atas memerlukan adanya solusi (jawaban) melalui suatu penalaran. Dalam IPS permasalahan seperti ini dapat dijawab dengan mengaitkan teorema lain atau pendefinisian baru terutama bagi siswa yang sudah dapat menerima kebenaran logis. Penalaran secara umum adalah proses berfikir yang logis dan sistematis atas fakta-fakta empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan. Disini penalaran dapat bermakna penyerupaan (associating) dan juga dapat bermakna akibat (reasoning). Ada dua cara menalar, yaitu penalaran induktif dan penalaran deduktif.
a.       Penalaran induktif merupakan cara menalar dengan menarik simpulan
dari fenomena khusus untuk hal-hal yang bersifat umum. Kegiatan menalar secara induktif lebih banyak berpijak pada pengamatan inderawi atau pengalaman empirik. Misalkan pengalaman hidup siswa sebagai makhluk sosial baik di rumah, di sekolah dan di masyarakat, mereka memiliki pengalaman hidup dengan orang lain. Jika di rumah, mereka hidup dengan keluarga (ayah, ibu, adik,kakak, dll), di sekolah ada Kepala Sekolah, Guru, teman sejawat, dll, di masyarakat tentu saja bergaul dengan orangorang dari berbagai kalangan.
b.      Penalaran deduktif merupakan cara menalar dengan menarik simpulan
dari pernyataan-pernyataan atau fenomena yang bersifat umum menuju pada hal yang bersifat khusus. Cara kerja menalar secara deduktif adalah menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk kemudian dihubungkan ke dalam bagian-bagiannya yang khusus. Penalaran dalam IPS terkait penarikan kesimpulan adalah manusia sebagai makhluk sosial pasti memerlukan orang lain. Hal ini disimpulkan dari fakta bahwa dimanapun berada tidak ada satupun manusia yang mampu hidup sendiri tanpa bantuan yang lain. Perlu diingat juga bahwa penalaran diartikan juga sebagai penyerupaan / analogi atau dalam bahasa sosial asosiasi Dengan definisi akan mewadahi atau memenuhi sistem dalam IPS itu sendiri. Dari sini diperlukan adanya langkah atau tahap berikutnya yaitu mencoba atau secara lebih luas membuktikan.
4.      Mencoba
                  Pengertian mencoba disini dapat diartikan secara sempit seperti menunjukkan dan dapat diartikan secara luas yaitu membuktikan. Pembuktian dalam hal ini dapat dilakukan dengan cara membayangkan atau dengan mempraktekkan langsung. Sebagai contoh masih berhubungan dengan tema “manusia sebagai mahkluk sosial”, menunjukkan sekelompok manusia di dalam kelas memiliki arti bahwa manusia selalu hidup bergerombol atau berkelompok atau memerlukan orang lain. Pembuktian melalui praktek dapat dilakukan dengan durasi waktu tertentu, missal selama 5 menit, siswa yang ada dalam kelas diperintahkan untuk duduk sendiri-sendiri, dan dilarang berbicara atau berkomunikasi dengan yang lain. Pengalaman seperti apa yang di dapat mereka? Contoh ini bukan merupakan pembuktian dalam IPS secara sempurna, hanya sekedar contoh tahapan/langkah dalam pendekatan ilmiah dengan tema manusia sebagai mahkluk sosial.
5.      Menyimpulkan (mengaitkan dengan konsep dan aplikasi lain).
                  Pengertian menyimpulkan disini mengandung dua pengertian, yaitu mengaitkan konsep dalam IPS itu sendiri dan mengaitkan konsep yang diperoleh dengan dunia nyata. Hasil praktek yang diperoleh oleh siswa digunakan untuk aplikasi dalam dunia nyata dikaitkan dengan pengetahuan, sehingga siswa dapat menarik kesimpulan tentang manusia sebagai mahkluk sosial yang harus berkomunikasi karena dia membutuhkan orang lain. Oleh karenanya, agar terjalin hubungan kerjasama atau kolaborasi yang harmonis, dia harus berkomunikasi secara sopan, santun dan beretika. Itulah yang dimaksud networking atau membentuk jaringan. Akhirnya, dengan pengalaman seperti itu diharapkan dapat membentuk sikap siswa.
2  Pendekatan kontekstual
a. Pengertian Pendekatan Kontekstual
          Dalam pendekatan kontekstual kita dapat membuat variasi dalam    pembelajaran dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai secara optimal.           Agar pendekatan pembelajaran tidak kaku harus menggunakan pendekatan      yang sesuai, artinya memilih pendekatan disesuaikan dengan kebutuhan materi             ajar yang dituangkan dalam perencanaan pembelajaran.
Depdiknas (2002:5)    menyatakan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning)        sebagai konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang             diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat            hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam   kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen, yakni    kontruktivisme (Constuctivism), bertanya (Questioning),             menemukan (Inquiri), masyarakat belajar (Learning Community),   permodelan (Modeling), Refleksi (Reflection), penilaian sebenarnya(Authentic            Assessment).
           Pendekatan kontekstual menurut Amri (2010;21) yaitu merupakan metode belajar yang membantu semua guru mempraktekkan dan mengaitkan       antara materi yang diajarkan dengan situasi yang ada di lingkungan siswa.         Pendekatan kontekstual adalah sebuah pembelajaran yang terfokus dalam             melibatkan siswa aktif memperoleh informasi yang dilaksanakan dengan     mengenalkan mereka pada lingkungan serta terlibat secara langsung dalam         proses pembelajarannya. Jadi dalam pembelajaran ini guru lebih aktif            memberikan strategi pembelajaran daripada informasi pembelajaran.
            Pendekatan kontektual (Contextual Teaching and Learning) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya. 
b.Karakteristik Pembelajaran Kontekstual
            Dalam pembelajaran kontekstual memungkinkan terjadinya lima      bentuk             belajar yang penting, yaitu mengaikan (relating),     mengalami (experiencing),      menerapkan (applying),bekerja             sama (cooperating) dan           mentransfer (transferring).
1.      Mengaitkan adalah strategi yang paling hebat dan merupakan inti          konstruktivisme. Guru menggunakan strategi ini ketika mengkaitkan            konsep baru dengan sesuatu yang sudah dikenal siswa. Jadi dengan     demikian, mengaitkan apa yang sudah diketahui siswa dengan informasi     baru.
2.      Mengalami merupakan inti belajar kontekstual dimana mengaitkan berarti          menghubungkan informasi baru dengan pengalaman maupun pengetahuan     sebelumnya. Belajar dapat terjadi lebih cepat ketika siswa dapat       memanipulasi peralatan dan bahan serta melakukan bentuk-bentuk penelitian yang aktif.
3.      Menerapkan. Siswa menerapkan suatu konsep ketika ia malakukan        kegiatan pemecahan masalah. Guru dapat memotivasi siswa dengan         memberikam latihan yang realistik dan relevan.
4.      Kerja sama. Siswa yang bekerja secara individu sering tidak membantu             kemajuan yang signifikan. Sebaliknya, siswa yang bekerja secara kelompok             sering dapat mengatasi masalah yang kompleks dengan sedikit bantuan.      Pengalaman kerja sama tidak hanya membantu siswa mempelajari                 bahan ajar, tetapi konsisten dengan dunia nyata.
5.      Mentransfer. Peran guru membuat bermacam-macam pengalaman belajar          dengan fokus pada pemahaman bukan hafalan.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERBANDINGAN TAKSONOMI BLOOM YANG TELAH DI REVISI DAN BELUM DI REVISI

STRATEGI PEMBELAJARAN EKSPOSIORY, HEURISTIK, INDUKTIF, DEDUKTIF

alat peraga